Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap peristiwa, setiap pertemuan, dan setiap detik yang berlalu, semua telah tersusun rapi dalam lembaran takdir-Nya, ditata dengan sempurna oleh Sang Maha Pengatur kehidupan. Demikian pula kisah kami. Di tengah kesibukan dan riuhnya masa muda, Allah mempertemukan dua jiwa dalam diam, tak pernah menyangka bahwa perjalanan panjang masing-masing akan berujung pada satu titik pertemuan yang disebut takdir.
Awal kisah ini bermula pada tahun 2016. Kami dipertemukan dalam lingkup sebuah organisasi sekolah. Ketika itu, Ia adalah seorang kakak tingkat yang mengemban amanah di organisasi itu dan dikenal sebagai pribadi yang pendiam. Sementara saya hanyalah anggota baru yang tengah belajar memahami ritme dan dinamika organisasi tersebut. Tidak ada sapaan, tak ada pendekatan, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa kelak, cerita ini akan berlanjut. Hanya lalu-lalang dalam diam, di mana masing-masing tengah bertumbuh dalam jalan hidupnya sendiri.
Namun rupanya, di balik sunyi itu, ada semesta yang tengah bekerja, menyulam benang-benang takdir-Nya secara perlahan. Waktu berjalan, tahun berganti, fase pun berubah. Di penghujung 2017, kami menapaki jalan masing-masing. Ia melanjutkan langkah ke perguruan tinggi, sementara saya masih menyelesaikan jenjang pendidikan menengah.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan itu menjadi kenangan samar. Tidak ada komunikasi yang terjalin. Kami menjadi dua orang asing yang disibukkan oleh mimpi dan tujuan masing-masing.
Hingga takdir kembali mengetuk pintu. Setelah bertahun-tahun tidak saling terhubung, semesta kembali mempertemukan kami. Di pertengahan tahun 2023, lewat sebuah platform media sosial, kami kembali dipertemukan. Sebuah pertemuan yang tak direncanakan, namun sungguh menyentuh sisi terdalam dari takdir. Waktu yang telah berlalu seperti membuka ruang baru bagi kami untuk membangun komunikasi yang lebih dalam. Bukan karena kebetulan kami saling mengenal, tetapi karena takdir yang perlahan menuntun langkah kami untuk saling menemukan. Mungkin inilah yang dinamakan waktu terbaik menurut Allah. Bukan saat kami pertama kali bertemu, tapi saat hati kami telah siap untuk menerima dan mengenal satu sama lain dalam kedewasaan yang baru.
Setelah perjalanan saling mengenal, dan melalui pertimbangan yang matang serta musyawarah bersama keluarga. Akhirnya kami melangsungkan prosesi lamaran dengan penuh khidmat dan kebahagiaan yang di hadiri oleh kedua keluarga di kediaman orangtua Regina pada September 2024. Hari itu menjadi saksi, bahwa dua keluarga mulai menjalin silaturahmi atas niat baik dua insan yang ingin bersama dalam naungan ridha-Nya.
Kini, dengan hati yang mantap, niat yang telah dibulatkan, dan doa restu dari kedua orangtua, keluarga, semua rekan serta sahabat. Kami bersiap melangkahkan niat baik ini ke jenjang pernikahan. InsyaAllah, pada bulan September 2025, kami akan mengucap janji suci dalam ikatan yang diberkahi oleh-Nya.
Sebab kami percaya, bukan karena bertemu kami berjodoh tapi karena berjodoh lah maka kami dipertemukan, Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saydina Ali bin Abi Thalib, “Apa yang menjadi takdirmu akan menemukan jalannya untuk menemukanmu”.
A/n Regina Septiani Putri